Mewujudkan Rasa Syukur

9

Putih abu-abu, seakan memiliki kebanggaan yang patut untuk disematkan pada setiap biografi rakyat Republik Kepulauan ini, mengingat masa-masa penuh manipulasi sikap, perasaan, keinginan dan kemauan. Namun tidak semua yang memakai putih abu-abu ini tidak murni memiliki eksistensi harapan yang lebih baik dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga tahunan. Mereka akan berevolusi dari pribadi yang kurang memiliki karakter, hingga mereka mampu untuk berdiri tegak pada setiap kemauan yang sedang atau memang mereka inginkan. Karena mereka sadar, hidup tidak harus “Sok iya gitu!”. Apalagi mereka yang benar-benar berada putih abu abu yang begitu bergengsi yakni SMK, terlebih semua civitas akademika pada lembaga pendidikan SMK YADIKA Bangil.

Mungkin tahun ini adalah tahun ter-kelam dalam sejarah putih abu-abu. Bagaimana tidak, seusai liburan semester ganjil tahun lalu, mereka dibuat santuy namun sedikit ada guncangan perlahan, terlahir beberapa miliar atom virus COVID-19 (Corona Virus Disease 19). Awal mula corona ini hanya merupakan endemi dari negeri asalnya, namun dalam hitungan beberapa minggu mampu menjadi sebuah pandemi untuk seluruh dunia, yang saat itu negeri ini belum begitu getol memerangi dan mengenal dengan pasti si COVID-19 ini.

Perlahan pandemik mulai merangsek ke negeri kepulauan ini, menyebabkan beberapa kegiatan, aktivitas, atau hal hal yang membuat manusia untuk saling interaksi perlahan menyusut dan terbatas. Masih segar dalam ingatan mereka siswa-siswi kami pada saat mereka memulai UNBK, selang sehari kemudian terlahir keputusan dari mas Menteri Pendidikan untuk meninjau eksistensi kegiatan UNBK saat itu. Dimulai dari memakai masker, di setiap Lab komputer disediakan Hand Sanitizer yang bertujuan untuk mengurangi efek berkembangnya virus COVID-19. Hari pun berganti, mereka (generasi SMK saat itu) mulai takut berujung parno. Pernah kami menjumpai sebuah twit dari anak SMK, “Pak menteri, mohon maaf, ini kami dari anak SMK mulai merasa takut, Bapak. Di satu sisi ujian begitu penting, namun negeri ini sudah mulai memberikan pesan jaga jarak, belajar di rumah, sementara kami berjuang dari rasa panik (terpapar COVID-19) dan keharusan mengikuti unbk. Belum lagi, bapak. Nanti ada ujian kompetensi keahlian. Itu pun tidak mungkin kami tidak bergerombol.” Cukup menusuk perasaan dan batin para siswa, dan sampai detik ini COVID-19 pun masih dengan santai dan sedikit betah di negeri ini terutama beberapa kota besar dan kecil di indonesia.

UNBK terlewat, UKK pun terbit, siswa masih dalam mode #belajardirumah, sambil menyelam minum air. Para siswa memiliki kesadaran atas semua imbauan tersebut serta memiliki kesabaran. Karena dengan kesabaran tersebut, mereka menuai hasil yang cukup menggemaskan yakni “LULUS 100%”. Tak pelak hal ini membuat mereka ingin melakukan kegiatan seremonial kebahagiaan. Namun lagi dan lagi, mereka mulai diuji kesabaran kembali. Benar, pengumuman kelulusan tersebut diumumkan pada saat mereka semua dalam ibadah puasa. Selain itu, regulasi pemerintah dan sekolah untuk tidak melakukan kegiatan perayaan pun harus tetap di junjung lebih agung lagi, yakni demi kemaslahatan kemanusiaan.

COVID-19, kelulusan, merupakan rantai permasalahan yang belum menemukan titik temu. Namun di mana ada niat baik, gayung pun bersambut. Beberapa hari yang lalu, (mantan) siswa kelas 12 TKJ di lembaga kami memainkan peranan sebagai bukti bahwa bersyukur tidak harus dengan konvoi, bersyukur tidak harus dengan mencorat-coret seragam yang mereka miliki, namun mereka lebih memilih bersyukur dengan cara berbagi takjil. Mereka memilih “iftar on the road” yang dilaksanakan pada tanggal 11 Mei yang lalu.

  • Berikut petikan wawancara dengan pencetus ide agenda iftar on the road.
  • Investigator : “Assalamualaikum. Mas Rio, ya?”
  • Mas Rio : “Wa alaikum salam, Pak.”
  • Investigator : “Gimana kabarnya, Mas? Sehat? Puasanya ga bolong kan?”
  • Mas Rio : “Alhamdulillah sehat, Bapak. Dan puasa ga ada yang bolong. Kecuali sarung saya, Pak.” (sambil pasang emot gemay)
  • Investigator : “Beberapa hari yang lalu temen-temen kelas 12 TKJ mengadakan acara apa sih, Mas? Ko rame amir, ya di deket sekolahan?”
  • Mas Rio : “Oh. yang tanggal 11 kemarin itu pak?”
  • Investigator : “Yes, ma dear..”
  • Mas Rio : “Anu, e to…. (sok anime) itu semacan tasyakuran saya dan temen-temen, Pak. “
  • Investigator : “Oh tasyakuran apa, Mas? Jadian, kelulusan atau buka usaha jualan?”
  • Mas Rio : “Idih, Bapak. Suka banget stalkingin muridnya? “
  • Investigarot : “Bukan stalking, cuiy. Ini gosip yang sudah beredar nyampe ke Wuhan :D”
  • Mas Rio : “Tasyukuran kelulusan kami, Bapak. Melihat kondisi begini, kami coba alihkan rasa syukur tersebut untuk berbagi kebahagiaan dalam kemasan berbagi takjil. “
  • Investigator : “Eh BTW, itu kan butuh modal. Modalnya kek gimana, Mas. Dari siapa?”
  • Mas Rio : “Oh, itu dari uang patungan dari kami sendiri, Bapak. Berharap yang sedikit bisa bermanfaat untuk sesama. “
  • Investigator : “Alhamdulillah, ikut senang mendegarnya. Mas-nya repot ga malam-malam begini? “
  • Mas Rio : “Tergantung, Pak.”
  • Investigator : “Siapa yang digantung?”
  • Mas Rio : “Hadeh bapak… maksudnya suasana dan situasinya bapaaaak… (ingin berkata kasar)”
  • Investigator : “Santuy anak muda… ha ha ha ha (bau kurma)”
  • Investigator : “Begini mas Rio. Setiap kegiatan pasti ada pencetusnya. Nah, acara ini ide awalnya disebabkan apa?”
  • Mas Rio : “Ide awalnya dari saya, Pak. Terus saya koordinasikan dengan temen-temen dan alhamdulillah Pak, semua antusias dan sangat mendukung ide saya ini. Untuk ide, ya tadi itu, Bapak. Udah jelas tasyakuran kelulusan.”
  • Investigator : “Yakin cuma itu? Atau mungkin ini ada kebahagiaan yang lain begitu?”
  • Mas Rio : “Baiklah. Ini sih privasi, Bapak. Intinya itu dan ini (kebahagiaan yang lain).”

Kebahagiaan tidak perlu dipenuhi ingar-bingar suara knalpot motor, baju yang tidak jelas warna dan corat-coretnya. Jadilah pribadi yang memiliki karakter utuh. Minimal peduli dan penuh kasih sayang. Dalam masa yang cukup membosankan ini, mereka, kakak kelas yang memberikan contoh terbaik sesuai dengan kemampuan mereka.

Bahagia dikelilingi dengan sahabat, teman yang saling mendukung mendulang ketidakmampuan menjadi keutuhan untuk saling tolong-menolong. Jadilah berguna sebagai siswa SMK YADIKA Bangil. Tetap di rumah saja dan perbanyak celengan rindu kalian dengan masa-masa yang akan datang.

[Qiepni]

Related Posts

9 Replies to “Mewujudkan Rasa Syukur”

  1. Keren Lo bro kegiatannya. Langka tapi nyata. Masih ada kepedulian ditengah carut marut nya bansos yang bikin geregetan……semoga makin berkah buat bekal masa depan. Congratulation ….👍👍👍👍💪💪

    1. Aamiin ya Rabbal alamiin.
      Terikat Kasih bapak atas gemblengan bapak, mereka menjadi pribadi yg beraahaja.

      🙂

  2. Juaraaa…
    Barakallah nak…selamat atas kelukusan kalian.semoga semua cita2 kalian tercapai..sukses yaaa

  3. Alhamdulillah, mendulang berkah dan keikhlasan di bulan ramadhan dan tetap menebarkan kebahagiaan bagi sesama di tengah pandemi covid 19..

  4. Alhamdulillah.

    Anak² yg hebat! Guru hebat! Sekolah mantap! Bangga menjadi guru kalian! Semoga apa yg kalian cita-citakan dimudahkan oleh Allah SWT.

    Aamiin.

  5. Kgiaiatanx sgt brmnfaat utk ssma Insha allah mnjdikn brkh utk klian d bln pnuh rhmad ini..aamiin.
    Daaaan..bhsa yg d pke sang redaktur.hmmmmm brsa bc novel lupus.banyolanx brkwlitas & mndidik
    Jeeeeempoool buat klian plus redakturx juga yaa..
    I like it. Ciuuus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.